DAPUR HIDUP; MENGHIDUPKAN DAPU

Oleh: Fredrikus AJI, S. Sos

Wacana kemandirian Desa saat ini hangat dibicarakan mulai dari kalangan akademisi, mahasiswa dan NGO atau LSM sejak diberlakukannya UU otonomi desa  No. 22 tahun 1999 dan UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP 72 tahun 2005 tentang Desa. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan NKRI”

Dengan diberlakukannya Undang-undang ini maka desa pun mendapat tempat dan ruang untuk mengatur dirinya sendiri. Mengatur diri sendiri berarti desa sudah diberi kewenangan untuk mandiri. Kemandirian desa akan terwujud bilah desa diberi kewenangan sepenuhnya untuk me

ngatur masyarakatnya dan segala potensi lokal yang ada di dalamnya termasuk perempuan yang selama ini dipandang sebagai kelompok nomor dua. Kaum perempuan dipandang perlu mendapatkan perhatian dalam hal ini memberikan motivasi agar mereka bisa keluar dari belenggu diskriminasi, baik secara sosial, budaya, politik dan lain sebagainya. Desa kalali sebagai suatu wilayah desa yang terdapat di Kecamatan Fatuleu Barat Kabupaten Kupang mendapat peluang yang sama dengan desa-desa lain yang ada di wilayah kesatuan republik ini.Secara administratif, desa ini diapiti oleh beberapa desa dan satu Kecamatan yaknibagian Timur barbatasan dengan Desa Pasi, bagian Barat berbatasan dengan laut sawu, bagian Utara berbatasan dengan Desa Naitae dan Nuataus, dan bagian selatan berbatasan dengan Kecamatan Sulamu. Mulai tahun 2012, desa ini terpilih sebagai salah satu desa inti dalam program pemberdayaan perempuan tani serabutan melalui lembaga Bengkel APPeK. Masuknya Bengkel APPeK adalah sebagai wujud kepedulian untuk membangun masyarakat Desa Kalali dari keterbelakangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bekerjama dengan Pemerintahan di Kabupaten Kupang. Bengkel APPeK dalam hal ini khususnya melakukan pendampingan pada kelompok perempuan yang dikemas dalam program Replikasi Partisipasi Kaum Perempuan Tani Serabutan Desa dalam rangka Merumuskan Kebijakan dan Alokasi Anggaran Dalam Mendorong Pemenuhan Hak-hak Dasar Perempuan.

Untuk mendorong program ini, berbagai kegiatan dilakukan seperti pelatihan-pelatihan dan diskusi rutin bulanan. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong kaum perempuan agar mampu dan berani dalam berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan di desa dan juga untuk mengasa kemampuan mereka dalam daya berpikir yang keritis dan sensitif dengan persoalan sosial di desa. Wujud keikutsertaan kaum perempuan di Desa Kalali untuk pembangunan di desa adalah terlibat dalam kegiatan Musrenbangdus, musrenbangdes dan musrenbangcam. Dalam mengelola potensi lokal yang ada di desa, kaum perempuan desa Kalali yang beranggota 25 Orang melakukan banyak aktivitas. Forum perempuan yang diketuai oleh Mama Margareta Tlonaen Leo ini melakukan kegiatan penanaman tanaman dapur hidup. Kegiatan ini dilakukan di lahan percontohan forum di lokasi kantor desa Kalali, juga di masing-masing rumah para anggota forum.

“Kegiatan penanaman tanaman dapur hidup ini identik dengan optimalisasi pemanfaatan pekarangan dan dapat diwujudkan dalam 5 fungsi pokok pekarangan yaitu 1). Pekarangan sebagai Lumbung Hidup, 2). Pekarangan sebagai Warung Hidup, 3). Pekarangan sebagai Bank Hidup, 4). Pekarangan sebagai Apotik Hidup, 5). Pekarangan sebagai suatu seni, kata bendahara Forum Perempuan Desa Kalali Mama Sarlota Kameo.

Menurut mama Margareta Tlonaen Leo (Ketua forum perempuan desa Kalali) bahwa sasaran kegiatan penanaman tanaman dapur hidup ini adalah optimalisasi pemanfaatan pekarangan, terutama pada kelompok wanita yang telah berkeluarga juga yang aktif dengan berbagai kegiatan dalamforum.Beliau mengharapkan, masyarakat disini (diDesaKalali) bisa melestarikan pekarangan rumah dan lahan tidur dengan ditanami berbagai tanaman bermanfaat yang juga sebagai potensi lokal.

Dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan maka Forum Perempuan Desa Kalali berupaya menggerakkan kembali budaya menanam di lahan pekarangan, baik di halaman rumah maupun di lahan-lahan lain yang bisa dikerjakan, dan  hal ini sudah dilaksanakan oleh kelompok Forum Perempuan Tani Serabutan Desa Kalali yaitu  kegiatan Penanaman Tanaman Dapur Hidup yakni dengan memanfaatkan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, tanaman obat, dan mulai berkembang dengan baik. Adapun keberhasilan ini tidak lepas dari bimbingan Bengkel Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung (B-APPeK), melalui pendamping lapangan yang bertugas di desa Kalali, pemerintah desa Kalali (Kepala Desa Kalali Bapak Yehezkial Pahnael) beserta masyarakat desa yang banyak mendukung kegiatan ini. Untuk meningkatkan motivasi kaum perempuan, Pendamping selalu memberi arahan dan dukungan dalam kegiatan temu lapangan atau sering disebut duskusi Kampung yang dilakukan setiap bulan.

Dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan, pendamping bersama pemerintah desa dan kelompok forum perempuan berupaya menggerakkan kembali budaya menanam di lahan pekarangan rumah warga. Pada program ini diperkenalkan bagaimana memanfaatkan pekarangan secara intensif, sehingga dapat mendukung penyediaan bahan pangan kususnya dalam proses pemenuhan kebutuhan dapur bagi keluarga secara lestari, yakni dengan memanfaatkan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan, sayuran, buah-buahan,dan tanaman obat.

Sumber : hasil pendampingan lapangan oleh Fredrikus Aji, S. Sos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s