BUKAN IMAN KAMI

Teriris kesunyian di sini

di luar sana jor-joran suara mereka merayakan kekayaan

terhimpit kami di dipan kecil

tanpa keindahan yang bisa kami lakukan sebagai benteng terakhir

karena berkaya-kaya tanpa melewati hukum kewajaran bukan iman kami

 

di dipan kecil ini

tidur kami berdesak-desakan

ingin kami berjuang lagi untuk membuktikan:

“uang bukan segala-galanya di atas bumi!”

karena korupsi bukan iman kami

 

senyum-senyum sumringah itu melebar di layar kaca

selalu dan berulang-ulang

berkata bangga akan memotong jari dan lehernya jika terbukti

kleptokrasi telah menjadi orientasi sehari-hari

mencuri pun, selama menjabat, adalah hal rutin

kami benar-benar teriris di dipan kecil ini

karena kleptokrasi bukan iman kami

 

berdesak-desakan di dipan kecil ini

bergantian kami buang-buang angin

usus-usus kami berjepitan karena hanya mengolah udara

itulah satu-satunya perlawanan kami sebagai orang yang dibuat tak berdaya

mulut kami kelu

kami dibuat rugi karena mereka meraup untung

biarlah kentut-kentut kami silih berganti

karena eksploitasi bukan iman kami

 

senyum-senyum sumringah itu selamanya terlambat memantau kemalangan

barangkali memang itu bakat dasar pecundang

ah, bangsat memang!

dipan kecil kami telah mereka jadikan komoditi

jemari mereka menghitung duit tiap detik untuk membuktikan duit adalah nilai terakhir

demokrasi kami berubah rupa menjadi korporasitokrasi

bumi kami melebur dalam kalkulasi untung-rugi

biarlah tidur kami terhimpit di dipan kecil ini

karena korporasitokrasi bukan iman kami

 

dari timur berguyuran kabut itu

sekejap menelan gunung

membuat kami lupa daratan dalam pukau

ah, sungguh terlaluuuuu!

kami makhluk yang tahu diri

TUHAN tidak pernah absen memandang kami

bagi-NYA tak ada yang mustahil

karena lupa dari mana asal bukan iman kami

 

mulut-mulut itu memburu Boenda Van Poetri, Meester Seng-Men serta makhluk-makhluk siluman lain

mereka bergentayangan di atas perut bumi

biarlah tangis Lapindo dalam sunyi

dan rintihan puluhan nyawa tenaga devisa TKI dalam kungkungan hukuman mati

toh kebenaran sekali waktu pasti MENYATA di sana-sini

karena hipokrisi bukan iman kami

 

(gnb:petani humaniora: jkt:minggu:20.10.13)

Gerard Bibang

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s